Mataram, suarabumigora.com — Suasana religius dan penuh kekeluargaan mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pengurus Wilayah (PW) Wanita Islam Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama warga binaan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Mataram, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan ceramah keagamaan dan doa bersama. Kehadiran PW Wanita Islam NTB menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian sosial sekaligus memberikan motivasi dan penguatan spiritual bagi warga binaan yang tengah menjalani masa pembinaan.
Ketua PW Wanita Islam NTB, Hj. Uum Umayah, hadir bersama Sekretaris Umum Tri Sari Wijayanti, Ketua Panitia Devy Thoyyibah Julia Sari, Sekretaris Panitia Rohyal Aini, serta jajaran pengurus PW Wanita Islam NTB. Turut hadir pula perwakilan Pengurus Daerah (PD) Wanita Islam Kota Mataram dan PD Wanita Islam Kabupaten Lombok Barat.
Dalam kesempatan tersebut, Hj. Uum Umayah mengatakan, peringatan Maulid Nabi tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang keteladanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan semangat memperbaiki diri.
Menurutnya, masa menjalani pidana hendaknya dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperkuat keimanan, dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
“Kami hadir di sini membawa pesan kasih sayang dan persaudaraan sesama muslim. Tujuannya satu, mengajak saudara-saudari kita di sini meneladani sifat-sifat Rasulullah, seperti sabar, jujur, dan berakhlak mulia, serta meneladani akhlak Siti Khadijah,” ujar Hj. Uum Umayah.
Ia berharap, setelah menyelesaikan masa pidana, para warga binaan dapat kembali ke tengah masyarakat dengan membawa perubahan positif dan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Sehingga saat masa hukuman usai, mereka siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang jauh lebih baik,” lanjutnya.
Dalam ceramahnya, TGH. Ahmad mengajak jamaah untuk menjadikan Siti Khadijah RA sebagai salah satu teladan dalam membangun kehidupan, khususnya dalam hal keimanan, kesetiaan, pengorbanan, kesabaran, dan kehidupan berumah tangga.
Menurutnya, kemuliaan Siti Khadijah RA begitu besar hingga mendapatkan salam langsung dari Allah SWT yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Hal tersebut menjadi salah satu gambaran betapa mulianya kedudukan Siti Khadijah di sisi Allah SWT.
TGH. Ahmad juga mengisahkan kehidupan rumah tangga Siti Khadijah bersama Rasulullah SAW yang penuh dukungan dan pengorbanan. Ia menggambarkan Siti Khadijah sebagai sosok yang tidak hanya menjadi istri, tetapi juga menjadi tempat Rasulullah SAW mendapatkan ketenangan, dukungan, dan kekuatan ketika menghadapi berbagai persoalan.
Ia kemudian mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kehidupan rumah tangga masing-masing. Menurutnya, keteladanan Siti Khadijah dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana, seperti memberikan perhatian kepada pasangan, menghargai perjuangan suami, menjaga komunikasi, serta menciptakan suasana rumah yang nyaman.
TGH. Ahmad juga menyinggung bagaimana Siti Khadijah senantiasa memberikan perhatian kepada Rasulullah SAW, termasuk ketika Rasulullah pulang ke rumah. Menurutnya, perhatian kepada pasangan tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk materi, tetapi dapat melalui sikap, pelayanan, penghormatan, dan kasih sayang. Ia mengingatkan agar kesibukan dan rutinitas tidak membuat pasangan saling kehilangan perhatian.
Dalam ceramahnya, TGH. Ahmad juga menyampaikan kisah tentang kesederhanaan Siti Khadijah. Ia menggambarkan bagaimana Siti Khadijah selama menjalani kehidupan bersama Rasulullah SAW tidak menjadikan rumah tangga sebagai ruang untuk terus menuntut dan meminta, melainkan menjadi tempat saling menguatkan dan mendukung.
Kisah tersebut kemudian dijadikan bahan refleksi bagi jamaah agar lebih memahami makna pengorbanan dan keikhlasan dalam rumah tangga. Ia juga mengajak kaum perempuan untuk tidak melupakan pentingnya merawat diri dan menjaga penampilan di hadapan suami. Menurutnya, menjaga penampilan bukan semata-mata soal kecantikan, tetapi salah satu bentuk perhatian dan penghargaan terhadap pasangan.
Pesan tersebut, kata dia, bukan untuk membebani perempuan, melainkan menjadi pengingat bahwa hubungan suami istri membutuhkan perhatian dari kedua belah pihak.
TGH. Ahmad menekankan bahwa keteladanan Siti Khadijah tidak cukup hanya diceritakan dalam peringatan Maulid, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari kesabaran menghadapi persoalan, kesetiaan mendampingi pasangan, keikhlasan dalam berkorban, hingga kemampuan menjaga keharmonisan keluarga.
“Jangan sampai kita hanya mengenal nama Siti Khadijah, tetapi tidak mengenal akhlaknya. Yang penting bukan sekadar mengetahui kisahnya, melainkan bagaimana kita mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan,” pesan TGH. Ahmad.
Kehadiran PW Wanita Islam NTB mendapat apresiasi dari pihak Lapas Perempuan Kelas III Mataram. Kegiatan keagamaan seperti ini dinilai dapat mendukung proses pembinaan kepribadian warga binaan, khususnya dalam memperkuat nilai-nilai spiritual selama menjalani masa pidana.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 281 warga binaan perempuan, 70 karyawan, dan 10 anak-anak, dengan jumlah peserta lebih dari 360 orang.
Melalui kegiatan ini, PW Wanita Islam NTB berharap semangat Maulid Nabi dapat menjadi penguat bagi warga binaan untuk terus menata diri, memperkuat keimanan, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.(lws)




0 Komentar