Mataram, suarabumigora.com - Bonus demografi yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2045 menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melompat menjadi negara maju. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila kualitas sumber daya manusia (SDM) dipersiapkan sejak dini melalui generasi yang sehat, produktif, berkarakter, dan berdaya saing.
Pesan itu mengemuka dalam puncak peringatan Milad Ke-4 Paguyuban Muslimah Nusa Tenggara Barat (PM NTB) yang digelar di Aula Bank NTB Syariah, Kamis (6/8/2026). Mengusung tema "Membentuk Generasi Sehat Produktif, Menyongsong Indonesia Emas 2045", kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen organisasi dalam membangun generasi masa depan melalui pemberdayaan perempuan dan penguatan keluarga.
Ketua Panitia Milad Ke-4 PM NTB, Hj. Sukmawati, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini dirancang tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menyentuh langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu program utama yang dilaksanakan ialah pembagian asupan gizi berupa telur di desa-desa binaan yang masih memiliki prevalensi stunting tinggi. Menurutnya, intervensi tersebut merupakan bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
"Seribu hari pertama kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan. Karena itu, kami berupaya memberikan intervensi gizi sebagai bagian dari ikhtiar mencegah stunting," ujar Sukmawati.
Selain fokus pada pencegahan stunting, PM NTB juga aktif memberikan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual terhadap anak melalui berbagai kegiatan penyuluhan di tengah masyarakat. Di bidang pembinaan karakter, organisasi ini menggelar lomba hafalan surat pendek bagi anak usia TK hingga SD, serta lomba tartil tingkat organisasi Majelis Ta'lim se-kota Mataram, termasuk silaturahmi bersama qari internasional sebagai upaya menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini.
"Wujud keberadaan kami adalah untuk umat. PM NTB ingin hadir menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan," tambahnya.
Sementara itu, Ketua PM NTB, Hj. Nirmala, menegaskan bahwa pembangunan generasi emas harus dimulai dari keluarga. Mengutip Surah An-Nisa ayat 9, ia mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi yang kuat, baik dari aspek akidah, kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi.
"Anak balita hari ini akan memasuki usia produktif ketika Indonesia Emas 2045 tiba. Pertanyaannya, generasi seperti apa yang sedang kita siapkan hari ini," tegas Nirmala.
Menurutnya, terdapat tiga tantangan besar yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, masih tingginya angka stunting yang berdampak pada kualitas kesehatan dan kemampuan kognitif anak. Kedua, meningkatnya ancaman sosial akibat perkembangan teknologi, seperti judi daring, pornografi, kekerasan berbasis gender, penyalahgunaan narkoba, hingga kejahatan siber. Ketiga, kesiapan SDM menghadapi dunia kerja melalui peningkatan keterampilan dan daya saing.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PM NTB terus mengembangkan program pemberdayaan perempuan melalui penguatan literasi digital, pelatihan keterampilan, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
Selama empat tahun berdiri, PM NTB telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, mulai dari aksi tanggap bencana, santunan anak yatim, solidaritas untuk Palestina, hingga pengajian rutin yang melibatkan majelis taklim dan pondok pesantren. Organisasi ini juga terus memperkuat konsolidasi kelembagaan. Setelah membentuk kepengurusan di Kabupaten Bima, PM NTB menargetkan pembentukan kepengurusan di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Barat.
"Empat tahun memang bukan waktu yang panjang. Namun dengan semangat kebersamaan, keikhlasan, dan kolaborasi bersama pemerintah serta seluruh elemen masyarakat, kami optimistis PM NTB dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi yang sehat, mandiri, produktif, dan berakhlakul karimah menuju Indonesia Emas 2045," tutup Nirmala.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Hj. Lale Syifaunnufus, yang hadir dalam kegiatan ini menyoroti pandangan publik yang sering kali membatasi narasi tentang perempuan hanya pada aspek kelembutan. Padahal dalam ajaran Islam, posisi muslimah ditempatkan sebagai benteng dan penjaga peradaban. Muslimah merupakan madrasah pertama tempat anak-anak mengenal akhlak, kejujuran, ketangguhan, dan nilai-nilai keagamaan.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kontribusi perempuan tidak boleh berhenti di lingkup domestik semata. Sejarah mencatat bahwa muslimah senantiasa mengambil peran aktif di ruang sosial, ilmu pengetahuan, dakwah, hingga pengambilan keputusan penting bagi kemajuan umat.
"Menjadi muslimah hari ini bukan berarti memilih antara keluarga atau masyarakat, bukan pula memilih antara pendidikan atau pengabdian," tegas Lale.
Menurutnya, esensi muslimah modern adalah menghadirkan nilai-nilai Islam di setiap ruang pengabdian: menjadi peneduh di rumah, penggerak di masyarakat, teladan di tempat kerja, serta perekat di tengah perbedaan.
Guna memberikan gambaran keteladanan, Lale mengisahkan perjuangan ketokohan Nusaibah binti Ka’ab (Ummu ’Ammarah) saat peristiwa Perang Uhud. Sosok tersebut dinilainya memberikan pelajaran berharga bahwa derajat perempuan tidak diukur dari seberapa keras suaranya, melainkan dari seberapa besar tanggung jawab dan keberanian yang dipikulnya.
Ia menilai konteks perjuangan masa kini memang tidak lagi menggunakan senjata, melainkan berhadapan dengan tantangan sosial yang amat kompleks. Di antaranya adalah derasnya arus informasi yang berpotensi mengikis moral generasi muda, tantangan mendidik anak di era digital, serta dinamika sosial yang membutuhkan soliditas dan gotong royong.
"Di sinilah semangat Nusaibah harus hidup kembali. Bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan mengangkat ilmu. Bukan dengan pertempuran, tetapi dengan keteladanan. Bukan dengan amarah, tetapi dengan kasih sayang yang mendidik," paparnya.
Menutup pidatonya, Lale Syifaunnufus berharap PM NTB terus konsisten melahirkan kader-kader perempuan yang berani, bijaksana, teguh, dan berilmu luas guna membimbing masyarakat menuju kehidupan yang berakhlak dan harmonis.
Puncak peringatan Milad Ke-4 PM NTB juga diisi dengan diskusi bertema pembangunan keluarga yang menghadirkan Ketua Baznas NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, dan Wakil Ketua TP PKK NTB, Hj. Wiwin Abul Chair.
Dalam paparannya, Lalu Muhammad Iqbal menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun generasi unggul. Menurutnya, seorang ibu memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan menjaga ketahanan moral keluarga.
"Secara spiritual, yang melindungi laki-laki sesungguhnya adalah seorang perempuan. Jangan berharap ketenangan dan kedamaian tercipta di luar rumah apabila tidak diawali dengan ketenangan di dalam rumah," ujarnya.
Ia juga mengutip syair penyair Mesir Hafez Ibrahim, Al-Ummu Madrasah, Iza A'dadtaha A'dadta Sya'ban Thayyibal A'raq, yang bermakna, 'Ibu adalah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau sedang mempersiapkan sebuah bangsa yang baik.'
Menurutnya, nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga akan menjadi benteng bagi anak ketika memasuki usia remaja dan dewasa.
"Ibu adalah ujung tombak dalam melahirkan generasi hebat. Ketika anak tumbuh dewasa, kontrol orang tua semakin terbatas. Karena itu, pendidikan agama dan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan di rumah akan menjadi benteng utama bagi mereka," katanya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua TP PKK NTB, Hj. Wiwin Abul Chair, menekankan pentingnya penguatan pola asuh keluarga, peningkatan literasi remaja, serta upaya pencegahan perkawinan anak sebagai bagian dari investasi menuju Indonesia Emas 2045.
"Peran keluarga dan pendidikan agama merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Kami mengimbau para remaja agar tidak terburu-buru menikah sebelum benar-benar siap secara fisik, mental, emosional, dan ekonomi," ujar Wiwin.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga organisasi perempuan, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan generasi NTB yang sehat, cerdas, berakhlakul karimah, serta bebas dari praktik perkawinan usia anak.(lws)



0 Komentar