![]() |
| (Dr. Mawar Junita, M.Pd., adalah akademisi di Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram. Disertasinya di Universitas Udayana (2025) meneliti model pengembangan wellness tourism di Kabupaten Lombok Utara*) |
Oleh: Dr. Mawar Junita, M.Pd.,
Lombok Utara, suarabumigora.com - Wisatawan datang ke Nusa Tenggara Barat, naik ke Rinjani atau menonton balapan di Mandalika, lalu pulang dalam waktu kurang dari dua hari. Data BPS NTB mencatat rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang pada Mei 2026 hanya 1,86 hari, dengan tingkat hunian kamar 41,07 persen. Angka ini menunjukkan persoalan yang sudah lama kita kenal. Kunjungan terus tumbuh, tetapi manfaat ekonomi yang tinggal di daerah belum sebanding.
Di sisi lain, dunia sedang bergerak ke arah yang menguntungkan kita. Global Wellness Institute (GWI) mencatat ekonomi wellness global mencapai US$6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan menembus US$9,8 triliun pada 2029. Indonesia adalah pasar wellness terbesar di Asia Tenggara. Wisatawan wellness tidak datang untuk berfoto lalu pergi. Mereka datang untuk pemulihan jiwa dan ketenangan, sehingga tinggal lebih lama, belanja lebih banyak, dan cenderung kembali.
Pemerintah pusat sudah menetapkan Bali, Yogyakarta, dan Solo sebagai destinasi wellness unggulan. Bali menjual penyembuhan spiritual, sedangkan Solo dan Yogyakarta menjual jamu dan budaya keraton. Pertanyaannya, di mana posisi NTB? Saya berpendapat NTB layak menjadi provinsi wellness keempat Indonesia, dengan karakter yang tidak dimiliki ketiganya.
Modal yang sudah di tangan
NTB memiliki alam yang sudah diakui dunia. Rinjani-Lombok ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2018, dan Tambora sedang diperjuangkan menuju pengakuan serupa. Udara pegunungan Sembalun, air panas alami di kaki Rinjani, serta perairan tenang Pulau Moyo dan Teluk Saleh adalah ruang pemulihan alami. Di banyak negara, aset seperti ini sudah menjadi produk wellness unggulan. Jepang dikenal dengan onsen-nya, dan negara-negara Nordik menjual kedekatan dengan alam.
NTB juga sudah membuktikan diri di wisata olahraga. Rinjani 100 Ultra 2026 diikuti 2.275 pelari dari 38 negara. Pocari Sweat Run Lombok 2026 melibatkan sekitar 9.200 peserta dan pendamping, sementara Sembalun Mountain Marathon menghadirkan sekitar 700 pelari dari 18 negara. Setiap pelari membutuhkan pemulihan, mulai dari pijat, nutrisi, sampai istirahat yang berkualitas. Ini pasar wellness yang sudah datang sendiri ke rumah kita, tetapi belum kita layani.
NTB punya keunggulan ketiga yang jarang disadari, yaitu reputasi sebagai destinasi ramah muslim. Lombok pernah dinobatkan sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Pasar wisatawan muslim dari Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah mencari spa, retreat, dan layanan kesehatan yang sesuai nilai yang mereka anut. Di peta ciri khas wellness yang disusun GWI, belum ada satu pun negara yang memegang kategori wellness ramah muslim. Ruang ini terbuka lebar untuk NTB.
Terakhir, kita punya kekayaan budaya dan pangan. Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo mewarisi tradisi pijat, ramuan, dan penyembuhan adat masing-masing. Madu Sumbawa, daun kelor, kopi Sembalun, dan susu kuda liar adalah pangan fungsional yang bisa diangkat seperti Italia mengangkat diet Mediterania menjadi daya tarik wisata.
Bukti dari Lombok Utara
Potensi ini bukan sekadar dugaan. Dalam penelitian disertasi saya tentang model pengembangan wellness tourism di Kabupaten Lombok Utara (Universitas Udayana, 2025), saya menemukan kekayaan wellness lokal yang belum banyak dikenal. Ada pengobatan tradisional Pertuk dan Menyembek untuk pemulihan fisik dan spiritual, Belian atau Sambian (tabib) serta ruqyah yang menyembuhkan melalui ritual adat dan doa, serta pijat tradisional dan bekam untuk relaksasi dan detoksifikasi. Alamnya mendukung, mulai dari Hutan Adat Mandala sampai Mata Air Medjet Kakong di Kecamatan Gangga. Budayanya pun hidup, seperti menenun kain tenun Bayan, proses pembuatan minuman tradisional yang kaya manfaat untuk tubuh (minuman Brem) dan kelas memasak makanan tradisional yang sudah dijalankan oleh masyarakat lokal selama ini.
Namun, penelitian yang sama menunjukkan potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal. Paket wisata wellness yang terstruktur masih minim, potensinya belum terpetakan, dan kesadaran para pemangku kepentingan masih rendah. Akibatnya, pembangunan pariwisata Lombok Utara masih terlalu bertumpu pada kawasan Gili. Karena itu, saya menawarkan model pengembangan berbasis hexa helix. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, industri sebagai penyedia layanan, masyarakat sebagai penggerak pengalaman lokal, akademisi sebagai peneliti dan pelatih, media sebagai promotor, dan wisatawan sebagai pengguna akhir. Lombok Utara dapat menjadi titik awal, lalu model ini direplikasi ke kabupaten lain di NTB.
Gagasan: geo-wellness ramah muslim
Dari modal itu, saya mengusulkan NTB mengusung identitas geo-wellness and muslim-friendly retreats, yaitu wellness gunung dan laut berbasis geopark yang ramah muslim. Wujudnya bisa sederhana dan bertahap. Contohnya paket penyembuhan alam di Sembalun, paket pemulihan atlet di Mandalika yang mengikuti kalender event, retreat halal dengan terapis bersertifikat, serta retreat pulau di Sumbawa yang menonjolkan madu dan tradisi Samawa. Paket-paket ini bisa dirangkai menjadi satu rute Lombok-Sumbawa selama tujuh sampai sepuluh hari. Dengan begitu, manfaat wisata ikut menyebar ke Pulau Sumbawa yang selama ini tertinggal.
Yang perlu dilakukan
Arah kebijakan Pemprov NTB sebenarnya sudah tepat. Pemprov telah menyebut wellness tourism sebagai bagian dari agenda pariwisata berkelanjutan, dengan prinsip bahwa pariwisata berkualitas diukur dari besarnya manfaat yang tinggal di daerah. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah konkret.
Pertama, bentuk tim lintas sektor yang melibatkan dinas pariwisata, dinas kesehatan, perguruan tinggi, asosiasi spa, pengelola geopark, dan pengelola kawasan Mandalika. Kedua, siapkan sumber daya manusia. Terapis, pemandu, dan pengelola homestay perlu dilatih dan disertifikasi, dan di sinilah perguruan tinggi pariwisata di Mataram bisa berperan besar. Ketiga, sisipkan zona wellness di event yang sudah berjalan, sehingga kita tidak perlu memulai dari nol. Keempat, NTB perlu tampil di panggung global seperti Global Wellness Summit, sekaligus mendorong pemerintah pusat agar Indonesia menjadi mitra resmi Global Wellness Institute. Saat ini Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura sudah punya bendera di peta wellness dunia, sementara Indonesia belum.
Wellness tourism bukan sekadar membuka spa baru. Ini cara pandang baru tentang pariwisata yang memulihkan, baik bagi wisatawan, masyarakat lokal, maupun alam itu sendiri. NTB memiliki gunung, laut, budaya, dan nilai yang dibutuhkan dunia yang sedang lelah. Tinggal satu hal yang kita perlukan, yaitu keberanian untuk menawarkannya dengan sungguh-sungguh.(*)



0 Komentar