Lombok Tengah, suarabumigora.com - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Nusa Tenggara Barat bersama Santri Pondok Pesantren Irsyadul Hayat dan masyarakat menyelenggarakan Gebyar Muharram 1448 H pada Senin, (15/2026) bertempat di Pondok Pesantren Irsyadul Hayat, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.
Mengusung tema “Meneguhkan Semangat Pelajar dan Jam’iyah Nahdliyyin untuk Mewujudkan Generasi Berilmu, Berakhlak dan Berkemajuan”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, kepelajaran, dan kebangsaan sekaligus mempererat sinergi antara pelajar, santri, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat saat ini.
Dalam sambutannya, Ketua PW IPNU NTB, Muhammad Iskandar Haris, menyoroti maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang menjadi perhatian serius berbagai pihak. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan langkah-langkah strategis yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kepelajaran dan kepemudaan.
Muhammad Iskandar Haris menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah agar segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Kekerasan dan Pelecehan Seksual sebagai langkah konkret dalam upaya pencegahan, edukasi, pendampingan korban, serta penanganan kasus secara komprehensif dan berkelanjutan. Ia juga menegaskan pentingnya melibatkan PW IPNU NTB dalam proses pembentukan maupun pelaksanaan Satgas tersebut.
“IPNU memiliki basis kader pelajar yang luas hingga tingkat akar rumput dan bersentuhan langsung dengan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual. Oleh karena itu, IPNU merupakan instrumen yang tepat dan efektif dalam melakukan upaya pencegahan, edukasi, advokasi, maupun pendampingan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap kehadiran Satgas Anti Kekerasan dan Pelecehan Seksual nantinya dapat menjadi wadah kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi anak serta pelajar.
Sementara itu, Samsul Hadi yang hadir mewakili Majelis Alumni (MA) IPNU NTB, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PW IPNU NTB atas terselenggaranya Gebyar Muharram 1448 H serta keberanian organisasi dalam merespons berbagai isu aktual yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait kekerasan dan pelecehan seksual.
Dalam sambutannya, ia menilai bahwa langkah IPNU NTB menunjukkan peran strategis organisasi pelajar sebagai agen perubahan yang tidak hanya fokus pada pengembangan kapasitas kader, tetapi juga hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Namun demikian, Samsul Hadi menegaskan bahwa setiap gerakan dan gagasan yang dibangun harus mampu memberikan dampak nyata. Menurutnya, respons terhadap isu kekerasan dan pelecehan seksual tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk diskusi, seminar, ataupun rekomendasi, melainkan harus ditindaklanjuti dengan program-program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
“IPNU harus menjadi pelopor gerakan yang mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap isu kekerasan dan pelecehan seksual harus diwujudkan dalam langkah-langkah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh pelajar, santri, dan masyarakat secara luas,” ungkapnya.
Melalui Gebyar Muharram 1448 H ini, PW IPNU NTB bersama Santri Irsyadul Hayat dan masyarakat menegaskan komitmennya untuk terus menguatkan peran pelajar Nahdliyyin dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan semangat kemajuan. Kegiatan ini juga menjadi ikhtiar bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda yang berkualitas demi terwujudnya masa depan Nusa Tenggara Barat yang lebih baik.



0 Komentar