Breaking News

6/recent/ticker-posts

Pendidikan & Ketahanan Gizi Anak Bangsa | Suara Bumigora

 


Oleh Dr. Bajang Asrin (Ketua Prodi Magister Pendidikan Dasar FKIP UNRAM & Ketua ISMAPI NTB)


Mataram, suarabumigora.com - Awal tahun 2026 kita mulai tersentak dengan rendahnnya gizi anak bangsa dalam rekam jejak nasional dan dunia. Ini sebenarnya masalah negera yang sudah lama terjadi pada sebagaian besar anak bangsa/balita/bayi/anak-anak Indonesia. Dampak lainnya berupa rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan anak-anak bangsa. Bahkan lebh miris lagi kemiskinan yang masih tinggi sesuai BPS Maret 2025 ada 23.85 juta rakyat miskin. Kasus bunuh diri siswa SD YBS, siswa kelas IV di Ngada NTT seperti gunung es permasalahan yang sedang dihadapi siswa-siswa saat ini.

Persoalan kesejahteraan anak bangsa membutuhkan kebijakan lintas sektoral, tidak cukup hanya diserahkan ke pemerintah, kolaborasi dengan akademisi, masyarakat, pengusaha/industri juga perlu terlibat secara intensif-kolaboratif. Kontras dengan jumlah anggaran pendidikan 769,1 triliun tahun 2026. Sehingga Program Pendidikan Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda dan Sekoah Terintegrasi dan MBG dari Presiden Prabowo menjadi harapan kita semua. Tekad yang tinggi untuk meningkatkan pendidikan yang unggul dan ketahanan gizi anakn bangsa merupakan suatu cita-cita yang agung dan mulia.

Ayam mati di Lumbung padi. Iniah pribahasa untuk menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara kaya raya mulai dari tambang emas,perak, batu bara, baja, tembaga, pangan, meneralya, geologinya, geografisnya, budayanya, dalam bukunya Yudi Latif (Editor) Apa Jadinya Dunia Tanpa Indoensia: Epos Sumbangsih Cerlang Nusantara Sebagai Pandu Masa Depan (2026). 

Negara harus hadir untuk menjadi penjamin moril dan idealis praktis untuk menyelamtkan anak bangsa secara total. Sulit membayangkan bahwa semua pelosok negeri ini lebih banyak yang mengalami kemiskinan di tengah melimpahnya kekayaan alam Indoensia. Masalahnya justru terletak pada soal pengelolaan pemerintahan yang menyimpang dari amanah konstitusi dan rakyat.

Sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini kita dihantui rendahnya pendidikan dan kemiskinan dari kota hingga pelosok negeri. Kegaduhan di setiap pergantian pimpinan nasional juga menyebabkan tidak kondusifnya sistem pemerintahan yang berlangsung dari desa, kabupaten, provinsi dan pusat sehingga pola menyelesaikan masalah-masalah rakyat didekati dengan “mental proyek”. 

Di samping itu, juga kita sebaiknya memiliki sense of crisis untuk menyikapi berbagai kenyataan saat ini. Demikian juga, bencana alam di Aceh, Sumatra, Kalimantan setiap tahun. Hal ini semua sebagai akibat dari paradigma dan mentalitas aparat negara yang menyimpang dari prinsip-prinsip bernegara yang agung dan mulia.

Kualitas pendidikan dari tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi belum memiliki daya saing global. Kita selalu cemburu dengan kualitas pendidikan yang dicapai negara-negara tetangga. Pembangaunan pendidikan membutuhkan kesungguhan semua pihak untuk memastikan peerbaikan mutu terus menerus (quality conteonius improvement).

Misalanya, saat ini pemerintah telah melakukan merekonstruksi pembelajaran denga pendekatan deep learning untuk menjamin pembelajaran dapat membentuk kompetensi 6 C ( Citizenship, Character, Colaboratiom, Communiation Critical Thinking dan Creativity), tanpa merubah kurikulum nasional. Kita berharap juga dengan kebijkan model persekolahan seperti Sekolah Garuda, Sekolah Terintegrasi dan Sekolah Rakyat dapat menjadi terobosan untuk menciptakan keunggulan pendidikan nasional ke depannya. 

Kita membutuhkan strategi-strategi unggul untuk pencapaian kualitas pendidikan tepat visi, tujuan, kebijakan dan program menunju Indonesia Emas 2045. Kebijakan dan program 2 Kementerian Pendidikan saat ini agar dapat menjaji jalan cepat untuk memastikan tata kelola yang professiona untuk menajdikan dunia pendidikan menjadi perhatian serius pemerintah Presiden Probowo. Serius mewujudkan ASTA CITA.

Posting Komentar

0 Komentar