Oleh: Riduan Mas’ud (Guru Besar Ekonomi Syariah, UIN Mataram)
Lombok Timur, suarabumigora.com - Di tengah pembangunan yang masih berpusat di kota, banyak desa justru menunjukkan kemampuan bertahan dan berkembang melalui kekuatan masyarakatnya sendiri. Desa bukan lagi sekadar wilayah administratif paling bawah, melainkan ruang tempat harapan, kreativitas, dan kemandirian tumbuh dari akar masyarakat sendiri. Dari desa pula, arah baru pembangunan Indonesia dapat dimulai.
Kisah itu tampak nyata di Desa Kembang Kuning, sebuah desa di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur. Desa yang dahulu hanya dikenal sebagai desa perintis itu kini menjelma menjadi desa mandiri, desa wisata terbaik nasional, hingga dipercaya menjadi delegasi Indonesia di tingkat Asia Tenggara. Perubahan tersebut dibangun melalui proses yang panjang dan ditopang oleh kepemimpinan yang konsisten dan kemampuan melihat potensi desa secara lebih terbuka.
Sosok di balik perubahan itu adalah Lalu Sujian. Perjalanan pengabdiannya di Desa Kembang Kuning bahkan dimulai sejak usia muda. Pada tahun 1991 hingga 1997, ia mengawali kiprahnya sebagai Sekretaris Desa Kembang Kuning. Pengalaman birokrasi di tingkat desa itulah yang kemudian membentuk pemahamannya tentang kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan desa ke depan.
Setelah itu, masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin desa sebagai kepala desa selama dua periode, yakni dari tahun 1997 hingga 2011. Kepemimpinan tersebut kembali berlanjut pada periode ketiga sejak tahun 2017 hingga 2026. Rentang pengabdian yang panjang itu menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat tidak lahir karena popularitas sesaat, tetapi karena kerja nyata yang dirasakan langsung oleh warga
desa.
Dalam berbagai wawancara dengan masyarakat, tokoh pemuda, dan pelaku wisata desa, nama Lalu Sujian hampir selalu disebut sebagai figur yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap masa depan desa mereka. Ia tidak hadir sebagai pemimpin yang menjaga jarak, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang tumbuh bersama persoalan
dan harapan warga.
Di tangan kepemimpinannya, Desa Kembang Kuning tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga dibangun jiwa kolektif masyarakatnya. Pendekatan tersebut membuat pembangunan tidak berhenti pada proyek fisik, tetapi juga mendorong perubahan sosial di tingkat masyarakat. Banyak desa gagal berkembang karena pembangunan terlalu dipahami sebagai urusan infrastruktur semata. Jalan diperbaiki, gedung dibangun, tetapi masyarakat tetap berjalan di tempat.
Kembang Kuning mengambil jalan berbeda. Infrastruktur tetap dibangun, pelayanan publik tetap diperkuat, tetapi inti pembangunan diarahkan pada manusia dan ekonomi masyarakat.
Pendekatan seperti ini penting dicatat. Sebab, desa tidak akan pernah benar-benar maju hanya karena memiliki bangunan megah. Desa akan berkembang ketika masyarakat memiliki ruang berpartisipasi dan peluang ekonomi yang memadai. Karena itu, pembangunan di Kembang Kuning tidak dilakukan secara elitis, melainkan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama.
Pemuda desa diberi ruang untuk berkreasi dan terlibat dalam pembangunan. Kelompok perempuan diperkuat melalui kegiatan ekonomi kreatif. Pelaku UMKM didorong untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah. Semangat gotong royong yang sempat memudar dihidupkan kembali sebagai modal sosial pembangunan. Dari sinilah tumbuh rasa memiliki terhadap desa.
Seorang pelaku UMKM desa dalam wawancara menyebutkan bahwa sebelum sektor wisata berkembang, banyak masyarakat hanya bergantung pada hasil pertanian musiman. Ketika sektor wisata mulai berkembang, aktivitas ekonomi masyarakat ikut meningkat. Produk kuliner lokal mulai dipasarkan, kerajinan tangan mendapat pembeli, dan masyarakat mulai percaya bahwa desa mereka memiliki nilai ekonomi yang besar.
Kembang Kuning berkembang tanpa meninggalkan identitas lokalnya. Potensi alam,
budaya, dan kehidupan masyarakat yang sederhana justru dijadikan kekuatan utama. Potensi itu kemudian diterjemahkan menjadi model wisata berbasis masyarakat yang kini menjadi salah satu wajah keberhasilan desa tersebut.
Langkah menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi desa dapat disebut sebagai keputusan visioner. Kawasan penyangga Rinjani yang dimiliki desa tidak sekadar dipandang sebagai bentang alam biasa, tetapi sebagai sumber kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara bijak. Pengembangan wisata di Kembang Kuning dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Rumah-rumah warga mulai difungsikan sebagai homestay, pemuda desa menjadi pemandu wisata, kelompok ibu rumah tangga mengembangkan kuliner lokal, sementara kerajinan masyarakat mulai menemukan pasarnya. Wisata tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi baru di desa.
Dalam wawancara dengan kelompok sadar wisata, mereka mengungkapkan bahwa keberhasilan Kembang Kuning bukan semata karena keindahan alamnya, tetapi karena masyarakat mampu menjaga keramahan, kebersihan, dan suasana sosial desa yang nyaman bagi wisatawan. Para tamu yang datang bukan hanya menikmati panorama alam, tetapi juga merasakan pengalaman hidup bersama masyarakat desa.
Dampaknya terasa nyata. Aktivitas ekonomi masyarakat meningkat, lapangan kerja baru terbuka, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa tumbuh semakin kuat. Desa yang dahulu dipandang biasa perlahan menjadi destinasi yang dikenal luas karena menawarkan sesuatu yang autentik: keindahan alam yang berpadu dengan keramahan masyarakat dan budaya lokal yang tetap terjaga.
Prestasi demi prestasi pun mulai diraih. Pada tahun 2005, Desa Kembang Kuning
meraih penghargaan Anugerah Bintang Selaparang sebagai Terbaik I. Pengakuan itu menjadi salah satu tonggak awal bahwa desa ini memiliki arah pembangunan yang berbeda
dibanding banyak desa lainnya. Kemudian pada tahun 2018, Desa Kembang Kuning berhasil menjadi Juara I Nasional Desa Wisata Nusantara.
Prestasi ini memperkuat posisi desa sebagai salah satu model pengembangan wisata berbasis masyarakat yang berhasil di Indonesia. Tidak berhenti di situ, pada tahun 2021 Desa Kembang Kuning kembali meraih penghargaan terbaik II nasional di bidang keamanan pangan. Penghargaan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada sektor wisata, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat dan ketahanan pangan desa.
Di bidang kesehatan dan lingkungan, Desa Kembang Kuning juga mencatat prestasi membanggakan. Pada tahun 2022, desa ini menjadi Juara I tingkat Provinsi NTB untuk kategori desa berperilaku hidup bersih dan sehat. Pada tahun yang sama, desa ini juga dinobatkan sebagai terbaik dalam pengelolaan sampah tingkat Provinsi NTB.
Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan desa yang baik harus berjalan seiring dengan kesadaran menjaga lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Puncak pengakuan internasional datang pada tahun 2023 hingga 2024 ketika Desa Kembang Kuning dipercaya menjadi delegasi Indonesia dalam forum ASEAN Village Network di bidang desa wisata dan program UMKM One Village One Product.
Pengalaman Kembang Kuning menunjukkan bahwa desa dapat tumbuh menjadi model pembangunan berbasis masyarakat yang berdaya saing. Semua perjalanan panjang itu akhirnya bermuara pada capaian penting pada tahun 2024, ketika Desa Kembang Kuning resmi bertransformasi dari desa perintis menjadi desa
mandiri. Sebuah capaian yang tidak sekadar administratif, tetapi simbol keberhasilan
membangun desa secara menyeluruh: ekonomi tumbuh, masyarakat berdaya, lingkungan
terjaga, dan tata kelola pemerintahan berjalan baik.
Di sinilah letak pesan penting dari Kembang Kuning. Desa sesungguhnya bukan objek
pembangunan, melainkan subjek utama pembangunan nasional. Desa bukan halaman
belakang yang hanya menerima program, tetapi ruang yang mampu melahirkan inovasi sosial, ekonomi, dan budaya.
Kisah Desa Kembang Kuning memperlihatkan bahwa kualitas kepemimpinan lokal
sangat menentukan arah kemajuan desa. Kepala desa hari ini tidak cukup hanya menjadi
pengelola administrasi dan anggaran. Kepala desa dituntut menjadi penggerak perubahan,
pembangun optimisme, dan penjaga masa depan masyarakatnya.
Pengalaman Kembang Kuning menunjukkan bahwa masa depan pembangunan Indonesia juga ditentukan oleh desa-desa yang mampu mengelola potensi lokal dan memperkuat partisipasi masyarakatnya.



0 Komentar