Mataram, suarabumigora.com – Dewan Bini Majelis Adat Sasak (MAS) menggelar kegiatan Halal Bihalal bertajuk “Silaturahmi dan Mensyukuri Potensi Bini Sasak” di Lesehan Anglo, Gegutu, Mataram, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus konsolidasi peran perempuan dalam memperkuat nilai budaya dan mendorong pembangunan daerah.
Ketua Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan bahwa pembangunan Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak cukup hanya bertumpu pada capaian statistik, tetapi harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan budaya lokal.
Ia menyoroti posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB yang masih berada di peringkat 27 nasional. Selain itu, rata-rata lama sekolah sekitar 12 tahun dan angka kemiskinan yang masih berada pada kisaran dua digit menjadi tantangan serius yang harus diatasi secara bersama.
“Pembangunan tidak bisa berjalan parsial. Diperlukan sinergi melalui model pentahelix pemerintah, perguruan tinggi, swasta, media, dan komunitas adat yang bergerak secara kolaboratif,” tegasnya.
Menurutnya, masyarakat juga harus berperan aktif dan tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah dalam mendorong kemajuan daerah.
Dalam pemaparannya, Lalu Sajim mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai dasar budaya Sasak, seperti Tindih (integritas), Maliq (etika), dan Merang (keberanian) sebagai fondasi kehidupan sosial. Ia juga memperkenalkan konsep Kurnan, istilah dalam bahasa Sasak kuno yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, keluarga besar, lingkungan, hingga hewan ternak.
“Momentum Syawal harus dimaknai lebih dalam, dimulai dari unit terkecil yakni Kurnan, untuk membangun kembali martabat masyarakat Sasak,” ujarnya.
Sementara itu, Pemucuk Bini Sasak, Hj. Warni Djuwita, menekankan bahwa kemampuan multitasking perempuan merupakan potensi dasar yang bersifat kodrati. Ia mengibaratkan perempuan sebagai “Al Ummu Madrasatun”—sebuah lembaga pendidikan yang menjalankan berbagai peran sekaligus.
“Perempuan adalah guru, pendidik, sekaligus pemimpin dalam keluarga. Ia harus memiliki integritas, etika, tanggung jawab, serta menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya,” jelasnya.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadikan perempuan sebagai sosok multitalenta yang berperan sebagai anak, istri, ibu, manajer rumah tangga, hingga anggota masyarakat.
Ia juga mengulas sejarah perempuan Sasak pada masa kerajaan Selaparang dan Pejanggik, yang menunjukkan peran strategis dan posisi egaliter perempuan dalam kehidupan sosial dan perjuangan. Nilai kesetaraan tersebut, menurutnya, perlu dihidupkan kembali dalam konteks kekinian.
“Perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berkontribusi dalam pembangunan. Potensi multitasking ini harus dimanfaatkan sebagai modal dasar dalam mempercepat eksistensi dan peran MAS,” ujarnya.
Pemucuk Bini Sasak lainnya, Hj. Ratningdiah, menambahkan bahwa perempuan merupakan “benteng terakhir” dalam menjaga nilai budaya dan moral di tengah arus modernisasi. Peran ibu dalam keluarga dinilai sangat strategis sebagai pendidik karakter utama bagi generasi penerus.
“Ibu adalah madrasah pertama. Jika perempuan kuat dalam memegang adat dan agama, maka generasi mendatang akan memiliki identitas yang kokoh,” katanya.
Ia juga mendorong perempuan Sasak untuk menghidupkan kembali nilai Maliq sebagai norma etika dalam kehidupan sehari-hari, serta memperkuat pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan potensi lokal seperti tenun dan kuliner tradisional.
“Kami ingin perempuan Sasak tidak hanya menjaga adat, tetapi juga mandiri secara ekonomi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tambahnya.
Mewakili Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan bahwa pemerintah daerah menempatkan lembaga adat sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
Menurutnya, di tengah derasnya modernisasi, penguatan nilai budaya menjadi solusi penting dalam menjaga stabilitas sosial.
“Kebudayaan adalah modal sosial terbesar. Pembangunan NTB tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Kita ingin maju secara ekonomi, namun tetap kuat secara identitas,” ujarnya saat membacakan amanat gubernur.
Ia menambahkan, pemerintah mendorong integrasi nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan etika sosial dalam menjawab berbagai persoalan, termasuk kemiskinan dan peningkatan IPM.
Menutup kegiatan tersebut, Ihwan mengajak seluruh elemen Majelis Adat Sasak untuk merumuskan langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Visi NTB ke depan adalah menjadi daerah yang modern, religius, dan tetap berakar kuat pada budaya lokal,” pungkasnya. (lws)




0 Komentar