Breaking News

6/recent/ticker-posts

Bocah-bocah Musisi Penyambung Nada Gambus Dayan Gunung | Suara Bumigora

Anggota Grup Gareda Temok Girang, dalam cuplikan video klipnya

Lombok Utara, suarabumigora.com - Populernya musik-musik bergenre Pop, Rock, Metal, hingga Dangdut beberapa dekade terakhir ini membuat telinga seolah asing dengan irama musik tradisional. Beberapa musik tradisional Sasak seperti Cilokaq, Gamelan, Genggong dan bahkan Gambus, bahkan tidak ditemukan di playlist (daftar lagu) kaum milenial. 


Tidak ingin musik tradisional dalam kondisi demikian, pada 2019 lalu Muhammad Rizal dan kawan-kawannya kemudian mulai membentuk sebuah grup musik Gambus di kampungnya di Pemenang Barat, Lombok Utara yang diberinya nama "Gareda Temok Girang". 11 orang pasukan musisi gambus yang dinakhodai Rizal tersebut adalah mereka yang masih bocah, rata-rata berumur 14 hingga 15 tahun. 


"Kami membentuk grup musik ini, sekitar  Agustus 2019 lalu," paparnya, saat ditemui media di halaman Sekretariat Yayasan Pasir Putih, Pemenang, Jumat (8/1/2021).


Muhammad Rizal, Nakhoda Grup Temok Girang

Kakek dari Rizal, konon adalah musisi gambus kondang di daerahnya, namanya Mamiq Kartanah. Berbekal ilmu bermusik dari sang kakek, Rizal kemudian berkeinginan melestarikan musik gambus khas Dayan Gunung (sebutan lokal untuk Kabupaten Lombok Utara). Regenerasi ini pula menjadi alasan Rizal memilih bocah-bocah sebagai personel grupnya. 


"Kakek saya dulunya adalah pemusik gambus yang cukup dikenal di Dayan Gunung,  musik gambus ini perlu kita lestarikan, nah itu alasannya saya memilih anak-anak sebagai anggota grup Gareda," jelas Rizal, sambil memetik bilah senar pentingnya. 


Rizal mengaku selama ini Gareda sudah berkali-kali beraksi di panggung, mereka diundang bahkan hingga ke luar daerah untuk pertunjukan. Hebatnya lagi, mereka dapat membuat sendiri beberapa alat musik yang mereka gunakan untuk pementasan. Bahkan Rizal sudah berkali-kali menerima orderan alat musik. 


Di tempat yang sama, Direktur Yayasan Pasir Putih, Muhammad Gozali menyebutkan, Pasir Putih sebagai lembaga kesenian yang berdiri di Lombok Utara akan terus mendukung segala bentuk kegiatan kesenian terutama yang memang  merupakan kearifan lokal Lombok Utara. Ia menyatakan selama ini telah mendampingi Gareda hingga bahkan membuat beberapa konsep pertunjukan. 


"Kita berkomitmen untuk mendukung segala bentuk kegiatan kesenian, selama ini kami telah mendampingi dan berbagi pikiran pula untuk Gareda," jelas Gozali. 


Pria yang juga dikenal dengan nama Amaq Dahrun tersebut juga menyatakan, seni dan teknologi tidak harus saling membelakangi, justru dengan adanya teknologi seni akan semakin diminati. Menurutnya inovasi dalam seni perlu dikolaborasikan dengan teknologi, seni harus bisa menyesuaikan diri dengan zaman, jika tidak maka seni tinggal menjadi ukiran prasasti. 


"Sekarang, yang penting kita berinovasi, jangan anti terhadap teknologi, seni dan teknologi dapat berkolaborasi. Jika seni tidak menerima perubahan zaman maka seni tinggal ukiran prasasti," tutupnya. (sat) 

Posting Komentar

0 Komentar