Breaking News

6/recent/ticker-posts

Gula Semut Karya Pemuda Pusuk Lobar, Tembus Pasar Brazil | Suara Bumigora

M. Rizani berpose dengan produk Gula Semut di rumah produksinya.
Lombok Barat, suarabumigora.com - Gula semut, gula aren dalam bentuk bubuk yang diproduksi King Aren (produsen gula semut) dusun Pusuk, desa Pusuk Lestari, Batulayar ini telah merambah berbagai pasaran lokal, nasional bahkan internasional. Pasalnya pada Desember 2019 lalu Gula Semut berhasil merambah pasar Brazil. 

Sementara itu, dalam lingkup pasar nasional Gula Semut telah terdistribusi ke sejumlah daerah di Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Sumbawa. Kreasi pemuda desa yang telah mencetak  produk unggulan lokal ini menjadi pusat perhatian pemerintah daerah Lombok Barat dan Provinsi NTB. 

Muhammad Rizani, pemuda 27 tahun asal desa Nira dan Durian (julukan desa Pusuk Lestari) ini, mengaku telah menggagas produk gula semut sejak dua tahun silam. berawal dari dua orang dan saat ini telah berhasil mempekerjakan 11 orang karyawan tetap, puluhan pekerja lepas dan Delapan kelompok binaan. 

Ia menuturkan dari produk utama Gula Semut kini King Aren berinovasi hingga merilis 21 jenis produk olahan pangan lokal, ditambah 11 jenis produk olahan yang dikreasikan oleh delapan kelompok binaannya. Mulai dari Gula Semut, Emping Melinjo, Kripik Kolang-kaling, Abon Pangkal Pisang, Kopi Pusuk dan beberapa produk lainnya. 
M. Rizani menujukan produk Gula Semut dan berbagai piagam penghargaan, piala, serta sertifikat yang diraihnya.
"Alhamdulillah, dulu kami hanya berdua saja, sekarang kami sudah memiliki banyak tenaga. Dan yang paling penting kami memiliki delapan kelompok binaan dan dapat memberdayakan masyarakat di desa kami ini," ujar Zani (sapaan akrab Muhammad Rizani), saat diwawancara tim liputan suarabumigora.com, Rabu (29/1/2020) di rumah produksinya.  

Zani mengungkapkan yang kegiatan usahanya juga telah menerima berbagai penghargaan skala lokal mau pun nasional, di antaranya sebagai UKM Brilian 2019 yang diperoleh dari Kementerian Koperasi dan UKM, serta mendapat predikat juara ke-dua kategori Wirausaha Muda Syariah Kawasan Timur Indonesia, di ajang Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2019.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap ide dan inovasinya dalam bidang ekonomi, kegiatan-kegiatan usaha yang dilakukannya pun menjadi sorotan berbagai pihak yang kemudian membantunya dalam berbagai aspek, misalnya saja mesin-mesin produksi dan kemasan yang dimilikinya sebagian diberikan oleh Pemprov NTB dan Pemda Lobar, rumah produksi yang digunakannya juga merupakan bantuan Bank Indonesia, sisanya Ia mengaku membeli sendiri perlengkapan produksi yang lain.  

Zani berharap apa yang dilakukannya kemudian akan berbuah manis bagi kesejahteraan masyarakat di desanya bahkan hingga kemajuan daerah. 

"Saya ingin desa ini maju, dan pemuda di desa ini dapat memanfaatkan potensi alam yang kita miliki jangan sampai di atas popularitas pusuk sebagai desa wisata ada masyarakat yang hanya jadi penonton saja," paparnya. 

Berbicara mengenai Gula Semut, produk ini sudah dikemas dengan berbagai macam varian, mulai dari pack, sachet hingga model kemasan stick untuk keperluan konsumsi hotel dan rumah makan. Harga yang dibandrol pun cukup terjangkau mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 35.000 tergantung berat bersih isi (netto).  

Diketahui, bahwa Gula Semut yang merupakan olahan gula aren ini memiliki kadar glukosa rendah hanya 9% pergramnya dibandingkan dengan gula pasir angka tersebut sangat minim, dengan kandungan glukosa pada gula pasir mencapai 70% pergramnya. Hal tersebut kemudian menjadi keunggulan Gula Semut karena aman dikonsumsi bahkan oleh penderita diabetes sekalipun. (sat) 

Posting Komentar

0 Komentar