Breaking News

6/recent/ticker-posts

Pesan Perdamaian Dalam Perang Topat | Suara Bumigora


Lombok Barat, suarabumigora.com - Kata perang pasti yang terlintas adalah pertumpahan darah yang bisa merenggut nyawa manusia, Tapi Perang Topat justru sebaliknya, Perang Topat merupakan ritual masyarakat Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Perang ini membawa perdamaian. Perang Topat pada substansinya, ingin menguatkan tali persaudaraan, menguatkan silaturahmi antara berbagai macam unsur yang ada di masyarakat, khsusnya masyarakat Hindu dengan masyarakat Islam.

Even religi dan budaya yang selalu diadakan tiap tahunnya, memadukan religi sisi agama, sisi religiusitas dan sisi budaya.
“Budaya Perang Topat ini terus dipertahankan, dan lebih disemarakkan pada tahun-tahun yang akan datang, rencana sebelum pelaksanaan perang topat 2020 akan mengundang para Bupati yang ada di provinsi Bali, dengan tujuan agar terjalin hubungan baik  antar dua provinsi tersebut, dan tahu asal muasal dari kegiatan perang topat yang membawa pesan-pesan perdamaian, serta kebinekaan itu tetap terjaga hingga seluruh wilayah Indonesia,” kata Bupati Lombok Barat  Fauzan Khalid, saat  memberikan sambutan pada gelaran ritual Perang Topat, Rabu (11/12/19).
Dikatakan bupati, bahwa kegiatan perang topat ini menjadi event yang mampu mendongkrak pariwisata dan kemajuan usaha ekonomi masyarakat terlebih Lombok barat. Sehingga mampu bersaing dengan daerah-daerah lain di NTB.

Ia mengajak kepada masyarakat Lombok barat untuk tetap menjaga kebinekaan, toleransi antar umat beragama, menjaga perdamaian dari pesan-pesan perang topat yang selalu diadakan tiap tahunnya.
Ritual budaya Perang Topat adalah, suatu upacara ritual yang merupakan pencerminan rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang telah memberikan kemakmuran dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian melimpah. Upacara ini dilaksanakan di Taman Lingsar oleh umat Hindu bersama-sama dengan suku sasak,yaitu dengan cara saling melempar topat (ketupat) antara peserta yang satu dengan yang lainnya.
Masyarakat setempat meyakini bahwa, upacara atau perang topat ini akan memberikan berkah dengan turunnya hujan. Sementara masyarakat yang lain menyebutkan bahwa upacara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang dikaruniakan oleh Tuhan bagi kemakmuran hidup mereka.
“Secara fisik di taman Lingsar ini ada dua bangunan yang melambangkan persatuan yaitu Kemaliq dan Pure”tutup Fauzan.
Biasanya upacara yang cukup sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purname Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak, atau sekitar bulan Desember. Ditaman Lingsar inilah terdapat pura yang merupakan tempat pemujaan yang berdampingan antara pemeluk agama Hindu dan Muslim suku Sasak yang disebut Kemaliq. Kronologis upacara ini, diawali dengan upacara persembahyangan ditempat pemujaan masing-masing. Kemudian mereka memasuki lapangan di luar tempat pemujaan, dan dilanjutkan dengan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara. (lws)


Posting Komentar

0 Komentar