Breaking News

6/recent/ticker-posts

Genggong, Musik Sederhana Pelipur Lara | Suara Bumigora

Sapri, sedang memainkan Genggong Gelangsar

Lombok Barat, suarabumigora.com - Sejatinya musik merupakan mahakarya suara hati yang disampaikan melalui nada-nada dengan aliran irama, tak heran banyak orang yang suka menenangkan diri dengan mendengarkan musik. 

Genggong, musik tradisional dengan nada kalem ini terdengar sangat menenangkan, tang-tung tang-tung, irama khas yang dikeluarkan alat musik dari bambu ini layak sebagai pelipur lara, dengan berbagai gending yang pernah dimainkan para leluhur kita. Sebut saja yang masih akrab dimainkan seperti gending Kepundung. 

Memainkan Genggong ternyata lumayan rumit, membutuhkan keahlian khusus untuk mengetarkan bilah-bilah kecil dari sayatan bambu tersebut. 
Sapri memainkan Genggong dengan nada Wadon
Sapri, Ketua Kelompok Genggong Desa Gelangsar ini menyebutkan, saat ini sangat sedikit sekali penerus yang bisa diharapkan untuk melestarikan musik ini, "tapi saya optimis melihat perkembangan pemuda di Gelangsar"  ucapnya, selasa (4/6/2019) dini hari tadi. 

Ia menceritakan, Genggong dahulunya adalah musik yang dimainkan oleh para tetua ketika di saat luang, seperti ketika sepasang suami istri sedang beristirahat, atau ketika sekumpulan remaja sedang duduk bersama. "Pada dasarnya Genggong harus dimainkan bersama, minimal dua orang, karena itu Genggong disebut juga musik romantis atau pemersatu" Jelas Sapri. 

Genggong harus dimainkan setidaknya oleh dua orang karena memiliki alat yang berbeda untuk dua nada intinya, yang pertama di sebut Wadon atau Induk nada, dan yang kedua disebut Lanang atau anak nada. 

Sapri menyebutkan musik Genggong termasuk kategori musik yang kalem atau bernada rendah, "jika dimainkan sangat enak didengar, bahkan tetangga pun tidak akan terganggu karna suaranya yang kalem, makanya kita saja sampai lupa waktu kalau sedang main" tambah Sapri. (sat) 

Posting Komentar

0 Komentar