Breaking News

6/recent/ticker-posts

"Tunaq Bineq" Tampilkan Berbagai Karya Siswa GSMS KLU 2019 | Suara Bumigora

Seni tari penyambutan tamu yang dipertunjukan pada presentasi akhir program GSMS
Lombok Utara, suarabumigora.com - Program Gerakan Seni Masuk Sekolah (GSMS) Lombok Utara 2019, pekan ini memasuki tahap akhir, penghujung program tersebut kemudian presentasi dikemas para seniman dalam gelaran pameran dan pertunjukan seni bertema "Tunaq Bineq" (bahasa Sasak : menyayangi bibit) yang digelar selama tiga hari (29 Nopember hingga 1 Desember 2019), bertempat di Balai Hortikultura, Bangsal, Pemenang. 

Gelaran penghujung program GSMS ini diramaikan oleh pameran karya dan seni pertujukan dari siswa sebagai output dari proses selama empat bulan program GSMS di Lombok Utara. Ada 21 seniman yang bergerak di masing-masing sekolah yang sudah ditunjuk dari berbagai latar belakang seni masing-masing, seni rupa, seni media, seni drama, sastra, dan seni tari. 

Salah satu seniman yang terlibat dalam proses ini, Hamdani, yang merupakan seniman foto dan videografi, menyatakan gelaran ini merupakan apresiasi terhadap siswa yang sudah memiliki minat berkarya, dari pameran yang ditampilkannya ia menyatakan 100 persen foto yang dipamerkan merupakan karya siswa. Ia merasa senang dapat berproses dalam GSMS, awalnya siswa hanya mengekspresikan diri melalui gawainya dengan berswafoto. Namun dengan hadirnya program ini kini siswa dapat berkarya dengan kamera gawainya mengenai lingkungannya. 

Hamdani berpose dengan hasil karya siswanya
"Saya senang sekali, dulu mereka senang selfi cuma itu, padahal Hp yang mereka miliki adalah aset besar untuk berkarya. Alhamdulillah sekarang kita sudah berhasil merubah pola pikir mereka, jadi sekarang mereka rutin memotret hal-hal menarik tentang lingkungannya. Dan ini 100 persen karya mereka," ujar seniman yang bertugas di SMPN 1 Gangga tersebut. 

Hamdani juga menjelaskan bukan hanya foto yang menjadi karya siswanya, tetapi juga video, terlihat dari layar televisi yang disediakan di pameran tersebut, para siswa SMPN 1 Gangga mendokumentasikan kondisi sekolah mereka pasca gempa 5 Agustus 2018 lalu dalam bentuk video dokumenter yang lugas.

"Karya mereka tidak hanya foto, tapi juga video. Itu hasil karya mereka tentang dampak gempa waktu itu di sekolah mereka," jelas Hamdani sembari menunjuk salah satu layar televisi di area pamerannya. 

Lain lagi dengan Arianto Adipurwanto, Sastrawan yang familiar di NTB bahkan di dunia satra nasional ini mengaku mengajarkan dasar-dasar penulisan cerita pendek kepada para siswa SMPN 2 Tanjung. Dilatarbelakangi kegelisahannya mengenai dampak negatif televisi, Ia mengarahkan siswanya untuk menulis cerita pendek terkait dengan pengalaman siswa itu sendiri terhadap tontonan di televisi. Alhasil karya para siswa tersebut diterbitkannya dalam kumpulan cerpen bertajuk "Gara-gara Film Kamen Rider", pameran tersebut sekaligus menjadi ajang peluncuran buku itu. 

"Saya ingin anak-anak ini hidup lebih realistis, tidak tertipu dengan adegan-adegan yang terlihat mustahil di televisi, makanya mereka saya minta menulis cerpen tentang tontonannya, dan inilah hasilnya," ungkap Ari sambil mempromosikan karya anak didiknya. 

Sementara itu, Atqia Sabila Putri, siswi kelas VII SMPN 2 Tanjung ini mengaku senang dengan program GSMS ini, pasalnya Atqia yang bercita-cita sebagai dokter ini mengaku sangat senang menulis, sehingga ia dan kawan-kawannya merasa sangat antusias. Dalam kumpulan cerpen "Gara-Gara Film Kamen Rider" Ia menulis sebuah cerpen yang berjudul "Denda 10 Juta" yang diakuinya terinspirasi dari isu-isu RUU KUHP yang sering diberitakan media. 

Atqia Sabila Putri (kiri) saat peluncuran buku "Gara-gara Film Kamen Rider" dalam presentasi akhir program GSMS 2019
"Senang sekali rasanya, saya bisa menulis dengan teman-teman, apalagi sampai jadi kumpulan cerpen, di cerpen yang saya tulis itu terinspirasi dari RUU KUHP, yang ayam tetangga masuk pekarangan didenda 10 juta," ujarnya polos pada media. 

Dalam kesempatan membuka gelaran pameran dan pertunjukan seni "Tunaq Bineq" Kepala Dinas Dikpora KLU, Fauzan, menyatakan keberadaan program GSMS ini tidak lain untuk melestarikan kebudayaan, kesenian, tradisi dan menghidupkan kearifan lokal yang ada di Lombok Utara. Ia berharap empat bulan yang sudah dimulai oleh para seniman ini dapat menjadi pemantik agar generasi di bumi Tioq Tata Tunaq Kabupaten Lombok Utara, dapat menjadi generasi yang mampu melestarikan dan menghidupkan nilai-nilai dari unsur-unsur tersebut. 

"Kembali ke khittah pendidikan, itu tujuan sebenarnya membangun SDM dengan fondasi nilai-nilai agama, budaya dan kearifan lokal. Sehingga muncul generasi-generasi yang mampu menerapkan  nilai-nilai serta melestarikan seni, budaya dan kearifan lokal," tandas Fauzan. (sat)  

Posting Komentar

0 Komentar