Mataram, suarabumigora.com - Suasana khidmat menyelimuti Masjid Raya At Taqwa Mataram pada Ahad (5/4/2026). Ratusan jamaah majlis ta'lim dari berbagai daerah kota Mataram mengikuti pengajian umum dan Halal Bihalal yang digelar Paguyuban Muslimah (PM) NTB
Laporan Majlis Pengarah PM NTB, Hj. Sri Suhada mengungkapkan bahwa acara yang menghadirkan pendakwah nasional Habib Ja’far Al Jufri ini dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat.
"Persiapannya mendadak, Ibu-ibu. Kami hanya punya waktu kurang lebih lima hari sejak Habib Ja’far mengabarkan keberadaan beliau di Lombok," ujar Hj. Sri Suhada saat memberikan laporan panitia.
Ia mengibaratkan kerja keras seluruh pengurus PM NTB seperti gerak cepat para pejuang yang sedang berjihad.
"Ini adalah bentuk perjuangan dari 'pasukan' Paguyuban Muslimah NTB. Kami merasa terharu sekaligus bangga, meski persiapan sangat mepet, kita bisa berkumpul bersama di rumah Allah ini," tambahnya yang disambut tepuk tangan meriah dari jamaah.
Sementara Ustadz Habib Ja'far Al Jufri dalam ceramahnya yang santai namun sarat makna, pendiri Hayfala Yogyakarta sekaligus sahabat karib Ustadz Abdul Somad (UAS) ini menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Habib Ja'far mengawali narasinya dengan sebuah tamsil menarik tentang protokoler.
"Kalau kita yang ingin bertemu tokoh besar, biasanya sulit dan harus lewat protokoler. Tapi kalau tokoh itu yang ingin bertemu kita, semuanya jadi mudah, bahkan dikawal ke ruang VIP," selorohnya yang disambut tawa jamaah.
Analogi ini ia hubungkan dengan spiritualitas. Menurutnya, mendekat kepada Allah seringkali terasa berat jika hanya mengandalkan usaha manusiawi seperti sulitnya meraih khusyuk dalam shalat atau ikhlas dalam memberi. Namun, ketika Allah yang berkehendak mendekat kepada hamba-Nya, maka jalan menuju kebaikan akan dibukakan secara lebar.
"Salah satu tanda Allah ingin dekat dengan kita adalah ketika Dia mengumpulkan kita dengan orang-orang shalih, seperti perkumpulan kita siang hari ini," tambahnya.
Mengutip pesan Rasulullah SAW saat pertama kali tiba di Madinah, Habib Ja'far membagikan tiga tips sederhana namun ampuh untuk masuk surga dengan selamat:
• Menebarkan Salam (Afshus-Salam):
Beliau menekankan bahwa memulai salam adalah ciri orang yang rendah hati (tawadhu).
"Orang sombong gengsi memulai salam karena merasa lebih besar atau lebih alim. Sebaliknya, sering mengucap salam adalah tanda hati yang indah," tuturnya.
• Berbagi Makanan (Ath'imut-Tha'am):
Habib Ja'far mengingatkan agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, termasuk berbagi makanan. Ia mengisahkan Imam Ghazali yang mendapat kemuliaan di alam kubur bukan hanya karena ilmu besarnya, melainkan karena pernah membiarkan seekor lalat meminum tinta di ujung penanya saat ia sedang menulis.
• Menyambung Silaturahmi (Washilul-Arham):
Menutup ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk gemar bersilaturahmi demi memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Ia memuji keramahan warga Lombok yang membuatnya selalu rindu untuk kembali berkunjung.
"Jika tiga hal ini dilakukan tebar salam, berbagi makanan, dan sambung silaturahmi maka janji Nabi adalah kita akan masuk surga dengan penuh keselamatan," pungkasnya.
Ditambahkan, gema takbir mungkin telah berlalu, namun esensi hari raya sejati adalah bagi orang -orang yang bertambah ketaqwaannnya kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan Ramadhan bukanlah penampilan fisik, melainkan transformasi hati.
"Hari raya itu bukan untuk orang yang berpakaian baru, tapi untuk mereka yang takwanya bertambah," ujarnya.
Ia menekankan bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa yang dijamin surga dalam Al-Qur'an adalah mereka yang gemar berbagi dan memiliki kelapangan hati untuk memaafkan.
Suasana masjid seketika hening saat Habib Ja’far mengisahkan keteladanan luar biasa dari Sayyidina Ali Zainal Abidin, cicit Rasulullah SAW. Beliau menceritakan bagaimana Ali Zainal Abidin tetap memuliakan, memberi makan, bahkan menjamin keamanan seorang pria yang ternyata adalah pembunuh ayahnya sendiri, Sayyidina Husain.
"Bayangkan, beliau tahu persis wajah orang yang memenggal ayahnya. Tapi saat orang itu datang butuh perlindungan, beliau tidak membalas dendam. Beliau justru menjamunya dengan makanan terbaik dan memberinya bekal saat pulang," kisah Habib Ja’far.
Pesan ini menjadi tamparan halus bagi fenomena sosial saat ini, di mana banyak orang memutuskan silaturahmi hanya karena masalah sepele.
"Ada ibu-ibu yang bersahabat puluhan tahun, tapi karena satu konflik, sepuluh kali Idul Fitri tidak mau bertegur sapa. Itu bukan hatinya orang bertakwa," tegasnya.
Habib Ja’far mengajak jamaah untuk meneladani hati Rasulullah SAW, bukan sekadar meniru penampilan luar seperti sorban atau siwak. Menurutnya, menyimpan kebencian hanya akan menyiksa diri sendiri.
"Memaafkan itu bukan hanya untuk kebaikan orang yang kita maafkan, tapi agar hati kita sendiri nyaman. Orang yang pendendam itu hidupnya tidak enak; ketemu si A suntuk, ketemu si B sumpek. Bahkan pakai baju kembaran saja jadi masalah," selorohnya yang memancing tawa jamaah.
ia juga menekankan bahwa membalas kebaikan dengan kebaikan adalah hal biasa. Namun, membalas keburukan dengan permaafan dan kebaikan adalah tanda seseorang memiliki "spek" istimewa di hadapan Allah sebagai golongan Muhsinin.
"Kalau kita ingin dicintai Allah, jadilah orang Muhsin. Balaslah keburukan orang dengan permaafan. Inilah akhlak sejati yang akan mengantarkan kita ke surga dengan penuh keselamatan," pungkas sahabat Ustadz Abdul Somad tersebut.
Acara Halal Bihalal ini diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto hangat antara sang pendakwah dengan para jamaah yang diakhiri serta dilanjutkan dengen pemberian santunan bagi anak yatim.(lws)




1 Komentar
MasyaAllah tabarakallah
BalasHapus