Mataram, suarabumigora.com - Kepemimpinan sejati tak kerap diukur dari pidato megah di podium, tetapi dari sejauh mana seorang pemimpin berani menjemput sendiri derita rakyatnya. Dalam konteks inilah, langkah-langkah Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. Lalu Muhamad Iqbal, yang secara langsung mendatangi masyarakat miskin, menyapa mereka tanpa sekat, dan hadir di tengah kesulitan hidup rakyat. Menghadirkan sebuah refleksi mendalam tentang makna kepemimpinan yang melayani.
Sebagai insan yang lama bergelut di dunia pengelolaan zakat dan pemberdayaan mustahik, langkah tersebut mengingatkan saya pada sebuah kisah monumental dalam sejarah Islam. Kisah Khalifah Umar ibn Khattab RA, pemimpin agung yang tak rela perutnya kenyang, sementara rakyatnya kelaparan. Karib terukir, kisah Umar ibn Khattab RA dan ibu pemasak batu.
Dalam suatu riwayat yang masyhur, Khalifah Umar RA suatu malam berkeliling Madinah. Dari kejauhan, dirinya melihat api menyala dan terdengar tangisan anak-anak. Saat didekati, ternyata seorang ibu sedang “memasak” batu di dalam panci, hanya untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan, agar mengira makanan segera matang.
Mendengar pengaduan sang ibu yang bahkan tak mengenal orang yang dihadapannya seorang Khalifah Umar RA, terhenyak. Tanpa menunggu perintah, dirinya segera menuju gudang Baitul Maal, memanggul sendiri karung gandum di pundaknya. Ketika penggawanya menawarkan, untuk membawakan karung tersebut, Umar RA menolak seraya berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat nanti?”
Khalifah Umar yang mengantarkan langsung gandum itu, memasakkannya, dan tak pergi sebelum memastikan anak-anak itu kenyang melega. Khalifah Umar ibn Khattab RA telah memberi teladan sepanjang masa. Pemimpin sejati yang bersedia memanggul beban rakyatnya, bahkan dengan pundaknya sendiri.
Jejak Keteladanan di Bumi NTB
Seritme dengan saripati kisah di atas, apa yang dilakukan Gubernur NTB turun langsung ke lapangan, menyaksikan kemiskinan dengan mata kepala sendiri, mendengar keluhan tanpa protokoler yang kaku adalah cerminan nilai yang relatif berfilosofi sama. Ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pesan kuat bahwa negara hadir, dan pemimpin tak berjarak dari penderitaan rakyatnya. Gubernur Iqbal melazimkan dirinya, untuk khidmat bersama rakyat. Kedatangannya menemui dua keluarga masyarakat di Desa Batu Bangka Sumbawa (21 Januari 2026) untuk dibangun rumahnya yang lebih layak huni membuat haru dan bangga. Kemudian langsung melihat bencana Banjir Rob di Lingkungan Kampung Bugis Ampenan Mataram (22 Januari 2026), untuk mengetahui tingkat keterparahan bencana serta ngobrol random dengan warga terdampak merupakan realita yang dilakoninya.
Kehadiran langsung pemimpin di rumah-rumah warga miskin, setidaknya memberi dua dampak penting. Pertama, kebijakan publik dari kewenangan kekuasaan lebih berakar pada realitas. Kedua, rakyat kembali merasakan sentuhan kemanusiaan dari pemimpinnya. Mereka merasa tak sendiri menghadapi denyut nadi berkehidupan.
Dalam perspektif Baznas NTB, langkah ini sejalan dengan semangat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang berkeadilan. Zakat bukan hanya angka dalam laporan keuangan, tetapi instrumen peradaban untuk menjaga martabat manusia. Ketika pemimpin daerah memiliki kepekaan sosial yang tinggi, maka sinergi antara pemerintah dan lembaga zakat kian menguat.
Representasi negara dan umat bertemu dalam satu tujuan: mengangkat derajat kaum dhuafa. Bukan sekadar memberi bantuan sesaat, tetapi membebaskannya dari lingkaran kemiskinan. Nilai itulah yang terasa kembali hidup ketika seorang gubernur memilih turun ke lorong-lorong kemiskinan, bukan hanya menunggu laporan dari balik meja kerja.
Langkah-langkah empati dan langsung menemui rakyat menjadi awal dari kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil. Menjadi inspirasi. Kekuasaan, sejatinya adalah amanah untuk melayani, bukan melulu dilayani. Saat dimana rakyat, membutuhkan uluran tangan pemimpinnya, hadir bantuan untuk rakyat. Saat dimana rakyat, menyampaikan aspirasinya, pemimpin mendengar jeritan rakyatnya. Saat dimana rakyat, menginginkan solusi, pemimpin turut merasakan derita rakyatnya. Saat dimana ketimpangan sosial, saat dimana kemiskinan ekstrem, saat dimana ada bencana, pemimpin merasa penting untuk bersama rakyat.
Bukankah tiap pemimpin adalah bagian dari rakyat, sebagaimana pada akhirnya kembali menjadi rakyat pada saatnya. Terpenting, anfauhum linnas (bermanfaat bagi manusia) dan fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Pertanyaannya, sejauh manakah kita telah bermanfaat dan berlomba pada kebaikan? Derita atas apa yang dialami rakyat memerlukan rasa empati kemanusiaan. Bagi pemimpin, berlega belakangan bersedih duluan. Lantaran, banyak keistimewaan dari pemimpin yang tak dialami oleh rakyat. Jadi teringat petikan slogan lawas, pemimpin umat: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.



0 Komentar